|
Written by Asoka Wardhana
|
|
Wednesday, 03 June 2009 11:17 |
|
Profil & Sejarah Hoka Hoka Bento
Hoka Hoka Bento pertama kali didirikan dibawah naungan PT Eka Bogainti. Dengan restoran pertama berlokasi di Kebun Kacang, Jakarta. Hoka Hoka Bento menyajikan makanan Jepang yang sehat, variatif, higienis, cepat saji dengan harga terjangkau serta suasana yang nyaman. 1985 Pada tanggal 18 April 1985, Hoka Hoka Bento pertama kali didirikan dibawah naungan PT. Eka Bogainti. Dengan restoran pertama berlokasi di Kebun Kacang, Jakarta. Hoka Hoka Bento menyajikan makanan jepang yang sehat, variatif, higienis, cepat saji dengan harga terjangkau serta suasana yang nyaman. Hal ini menjadikan Hoka Hoka Bento sebagai restoran dengan konsep “Japanese Fast Food” terbesar di Indonesia. 1990 Hoka Hoka Bento mengembangkan sayap ke Bandung dan sampai saat ini telah ada 12 store yang tersebar di seluruh kota Bandung. 2005 Hoka Hoka Bento membuka store pertama di Surabaya. Seiring dengan perjalanan waktu hingga saat ini sudah ada 10 store di Surabaya dan mulai tanggal 18 Juli 2008 Hoka Hoka Bento pertama dibuka di kota Malang. 2008 Tepatnya sampai dengan Juli 2008, selama kurun waktu 23 tahun, Hoka Hoka Bento telah tumbuh dan berkembang dengan menghadirkan 97 store yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Cilegon, Surabaya dan Malang. VISI PERUSAHAAN VISI PERUSAHAAN DARI HOKA HOKA BENTO menjadi restoran fast food dengan ciri khas Jepang yang mengutamakan kualitas produk dan kualitas pelayanan yang terbaik, sehingga HOKA HOKA BENTO menjadi pilihan utama dan terkemuka dalam bisnis restoran. MISI PERUSAHAAN Kami memberikan solusi bagi pelanggan untuk mendapatkan makanan yang berkualitas dan variatif dengan mengutamakan pelayanan demi kepuasan pelanggan. Kami berkeyakinan bahwa hanya dengan memaksimalkan pelayanan dan produktifitas kerja, kami bisa memaksimalkan ekuitas karyawan, kemampuan memperoleh keuntungan dan mencapai pertumbuhan. |
|
Last Updated on Wednesday, 03 June 2009 13:12 |
|
|
Written by Asoka Wardhana
|
|
Wednesday, 03 June 2009 11:06 |
 Tahun 1940, seorang pengusaha bernama Bill Rosenberg mendirikan dan membuka sebuah gerai donut dengan nama Open Kettle di kota Boston, Quincy – Massachusetts, Amerika Serikat. Tanpa disangka gerai donut miliknya tumbuh dengan pesat. Hal ini terbukti dari makin bertambah banyaknya jumlah pelanggan yang berkunjung. Melihat perkembangan usahanya yang positif, tahun 1950 Rosenberg pun memutuskan mengubah nama Open Kettle menjadi nama lain yang lebih menjual. Setelah melalui proses yang panjang, terpilihlah nama baru yang lebih menjanjikan yaitu Dunkin' Donuts. Selaras dengan perubahan nama tersebut, dirintislah sistem franchise (waralaba). Tahun demi tahun berlalu. Kemajuan dan ketenaran nama Dunkin' Donuts makin tak terbendung. Bahkan di tahun 1970, Dunkin' Donuts telah menjadi merek internasional dengan reputasi yang luar biasa dalam hal kualitas produk dan pelayanan. Reputasi dan ketenaran itu jugalah yang kemudian menarik minat Allied Domecq – sebuah perusahaan internasional yang membawahi Togo's dan Baskin Robins - untuk membeli Dunkin' Donuts dari keluarga Rosenberg. Pembelian dan pengambilalihan perusahaan dari keluarga Rosenberg akhirnya disepakati dan dilakukan dengan penuh persahabatan pada tahun 1983. Meski berganti kepemilikan, Allied Domecq tetap berusaha mempertahankan sistem manajemen yang sudah berjalan di Dunkin' Donuts. Kalaupun ada yang harus dirubah, perubahan dilakukan dalam skala kecil. Hanya satu yang menjadi ambisi seluruh manajemen Allied Domecq yaitu membantu Dunkin' Donuts memperluas pasar secara internasional. Untuk mewujudkan ambisinya tersebut, diberlakukanlah standarisasi di seluruh counter Dunkin' Donuts. Di samping itu, berbagai strategi marketing yang jitu juga mulai dilancarkan, seperti selalu berusaha memperbaharui design sesuai dengan trend, fokus terhadap kualitas produk serta berusaha memaksimalkan kepuasan pelanggan. Dengan didukung sumber daya manusia yang handal, dalam waktu singkat ambisi Allied Domecq tercapai. Dunkin' Donuts berhasil memperluas pasar secara menakjubkan sehingga gerainya tidak hanya tersebar di benua Amerika, tetapi juga di benua Eropa dan Asia. |
|
Last Updated on Wednesday, 03 June 2009 13:13 |
|
|
Written by Asoka Wardhana
|
|
Wednesday, 03 June 2009 10:49 |
Krisis yang membawa peluang .... Setiap kesulitan selalu membukakan peluang untuk melangkah lebih maju. Ketika krisis moneter menerpa Indonesia di tahun 1997, anak perusahaan dari sebuah perusahaan nasional terkemuka, yang menjual mesin pembuat roti mengalami kesulitan untuk menjual produk yang dimilikinya sehingga kemudian mengalihkan bisnisnya dengan memanfaatkan mesin-mesin tersebut untuk membuat roti-roti berkualitas tinggi agar roda perusahaan dapat terus berjalan. Tekad ini bukan tanpa kendala karena selain belum berpengalaman, perseroan yang seharusnya menekan pengeluaran justru harus menyediakan modal lebih besar untuk menghidupkan usaha ini. Pada bulan Agustus 1997, toko pertama “Mahkota Bakery” dibuka di Makassar yang merupakan kerjasama dengan pemasok mesin dari Taiwan. Setahun kemudian, di bulan Oktober 1998 toko kedua mulai beroperasi di Surabaya. Masih di tahun yang sama, dengan lompatan internasional dibukalah toko roti di Myanmar bernama “Wonder Bread”. Setelah berjalan 2 tahun, perseroan mengganti nama “Mahkota”, yang ternyata sudah milik perusahaan lain, menjadi “ Buana”. Pada Bulan November 1998, toko “Roti Buana” yang pertama dibuka di Jakarta. Kemudian di bulan Juli 1999 kembali sebuah toko “Roti Buana” dibuka di Semarang. Sejak saat itu, Roti Buana terus membuka lebih banyak lagi pusat distribusi dan toko di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Makassar seiring pertumbuhan penjualan yang semakin pesat. http://www.buanabakery.com/ |
|
Last Updated on Wednesday, 03 June 2009 13:13 |
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 3 |